Kamis, 16 Februari 2012

Ah, Wartawan Senior Ditangkap Gara-gara Narkoba

JAM menunjukkan pukul 09.00. Saat itu, Kamis (16 Februari 2012), saya sedang memberikan pengantar mata kuliah manajemen isu dan pendapat umum kepada mahasiswa komunikasi Universitas Esa Unggul Jakarta.

Kebetulan hari itu adalah hari pertama kuliah semester genap. Mata kuliah tersebut tentu masih sangat asing bagi para mahasiswa.

Oleh sebab itu untuk memudahkan para mahasiswa "menangkap" mata kuliah yang saya ajarkan, saya memancing para mahasiswa agar mengungkapkan berbagai isu dan peristiwa hangat yang sedang dibicarakan masyarakat.

Mereka lalu menyebut isu/berita tentang "kebohongan" Angelina Sondakh (Angie) saat memberikan kesaksian atas kasus korupsi wisma atlet di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor); kasus pembunuhan berantai di Nganjuk yang melibatkan kaum gay; dan anggota DPR yang mengeluhkan kualitas snack rapat yang menurut mereka "begitu-begitu saja".

Saat kami mendiskusikan isu dan pendapat umum tersebut, sebuah SMS masuk ke ponsel saya. Teman saya mengirim pesan singkat (tapi panjang) berupa kutipan berita dari situs SIGAP Bencana-Bansos.

Isinya seperti ini: "Wartawan Senior MHJ Dikabarkan Ditangkap Polisi Karena Narkoba. Pada pukul 23.05, hari ini (14/Feb) kami mendapatkan informasi bahwa salah satu wartawan senior berinisial MHJ, ditangkap polisi di sebuah ruangan karaoke bersama dengan tiga orang perempuan dan dua orang WNI keturunan India yang konon kerabat ekspemilik Century. Ditemukan pula uang senilai 200.000 USD di TKP. Informasi didapatkan dari staf hotel Paragon yang menguping pembicaraan polisi.

Sebagaimana diketahui, menurut sumber, MHJ yang merupakan pemilik portal news online, adalah orang dekat salah satu mentri koordinator di KIB-2 yang juga merupakan ketum salah satu parpol.

Namun, setelah dikonfirmasi ke pihak hotel Paragon, mereka mengatakan bahwa tidak ada kejadian apa-apa di hotel tersebut."

Setelah menerima pesan itu, saya langsung mengontak pengirim SMS untuk menanyakan kebenaran berita tersebut. Harap maklum, MHJ (siapa tahu) adalah inisial dari Muchlis Hasyim Jahja, mantan wartawan Media Indonesia yang sekarang punya usaha sendiri (Inilah.com dan Koran Inilah).

Setelah membaca dengan saksama berita yang telah menjadi SMS itu, saya menyimpulkan kabar tersebut sebagai isu. "Itu, mah isu," jawa saya -- juga lewat SMS -- ke teman saya. Lain soal tentu jika kemudian terbukti (tentu setelah berbagai pihak melakukan check and recheck dan konfirmasi) ternyata MHJ yang tertulis di berita itu adalah benar-benar Muchlis Hasjim dan yang bersangkutan benar-benar tertangkap karena sedang mengonsumsi narkoba seperti pilot Lion Air tempo hari.

Hari Kamis (16 Februari 2012) sampai pukul 15.00, belum ada kepastian yang dimaksud MHJ adalah Muchlis Hasyim Jahja. Hingga siang itu, berita masih simpang siur. Isu yang berkembang, benar MHJ adalah Muchlis Hasyim, "dia memang ketangkap basah ketika sedang mengonsumsi narkoba". Isu lain, bukan, tidak mungkin Muchlis melakukan perbuatan tak elok seperti itu. "Ah, siapa tahu memang dia, tapi semuanya sudah diatur," kata yang lain.

Saya lantas mencoba mencari tahu dari sumber lain. Dari hasil googling, saya menemukan berita soal MHJ dari PORTALKRIMINAL.COM. Isinya lebih lengkap, karena melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, seperti ini: "Seorang wartawan senior dan tiga orang perempuan serta dua orang WNI keturunan India dikabarkan ditangkap polisi di sebuah Hotel Paragon di Jakarta Pusat, Rabu (15/2/2012) sekira pukul 23.05 WIB karena diduga terlibat narkoba. Namun, Direktur Narkotika Polda Metro Jaya membantah dan balik bertanya.

Informasi yang dihimpun, dua buah situs yakni sigapbencana-bansos.info dan teraspolitik.com melansir kabar wartawan senior berinisial MHJ ditangkap polisi. Dalam situs sigapbencana-bansos.info, diberitakan, dengan judul "Wartawan Senior MHJ Dikabarkan Ditangkap Polisi Karena Narkoba". MHJ ditangkap polisi di sebuah ruangan karaoke bersama dengan tiga orang perempuan dan dua orang WNI keturunan India.

Hal yang sama juga diberitakan pada pada situs Teraspolitik.com, MHJ menurut sumber situs ini, merupakan pemilik portal news online. Lagi, menurut situs yang peringkatnya 680.906 ini, sosok MHJ banyak kenal dengan sejumlah pejabat.

Sementara itu, Direktur Narkotika Polda Metro Jaya Kombes Pol Nugruho Aji saat dihubungi, Kamis (16/2) membantah menangkap wartawan senior berinsial MHJ dan tiga orang perempuan serta dua orang WNI keturunan India. Justru perwira menengah ini balik bertanya dari mana informasi didapat.

"Kami tidak ada penangakapan semalam. Dari mana tahu informasi wartawan senior ditangkap," tanya mantan Direktur Narkoba Polda Jawa Barat ini."


Penasaran dengan berita tersebut, kembali saya browsing di internet dan menemukan kasus MHJ di Jaringnews.com. Isinya seperti ini: "Seorang wartawan senior berinisial MHJ dikabarkan dicokok aparat kepolisian di Hotel Paragon, Jakarta, Rabu (14/2), sekitar pukul 23.00 WIB.

Kuat dugaan dan ramai diperbincangkan di jejaring sosial twitter, MHJ adalah Muchlis Hasim Jahja, pemilik portal berita online, serta bekas staf khusus Jusuf Kalla.

Namun, berdasarkan informasi yang diterima Jaringnews dari Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, ternyata yang ditangkap adalah Iwan Dewanto, adik ipar seorang wartawan Progresif cabang Bandung, Mukhlis Hasyim.

Iwan, 30 tahun, seorang pekerja Hotel Classic, diringkus di rumah kos di Jalan Taman Sari IA No 4, Kelurahan Mapar, Jakarta Barat, Sabtu (11/2), sekitar pukul 01.20 WIB. Informasi ini diperoleh Saud dari hasil koordinasi dengan Kasat Narkoba Polda Metro Jaya.

"Iwan Dewanto adalah adik ipar wartawan Mukhlis Hasyim. Penangkapnya Satuan Narkoba Barat. Barang bukti paket sabu seberat 0,5 gram. Tersangka saat ini ditahan Satuan Narkoba Jakarta Barat," tulis Saud dalam pesan singkat yang diterima Jaringnews di Jakarta, Kamis (16/2).

Mukhlis, lanjut Saud, sempat datang ke Polres Jakbar untuk mengurus adik iparnya yang tertangkap. Saat mendatangi Polres Jakbar tersebut, Mukhlis mengaku sebagai wartawan Progresif cabang Bandung.

Sementara itu, ketika Jaringnews mengkonfirmasikan hal ini ke Muchlis Hasyim Jahja (MHJ) via telepon, yang bersangkutan mengaku tidak memiliki adik ipar yang dimaksudkan."

Sampai di sini, kabar yang diberitakan lewat berbagai situs berita masih simpang siur. Fakta yang diungkap masih memunculkan pertanyaan untuk melahirkan fakta-fakta berikut. Kalau Muchlis Hasyim Jahja membantah tidak punya adik ipar bernama Iwan Dewanto, lantas mengapa SIGAP berani menyebut inisial MHJ berdasarkan sumber yang sangat sumir, yaitu staf Hotel Paragon, sementara sang staf pun (katanya) mendapat informasi tak jelas tersebut setelah menguping dari omongan polisi?

Wartawan mediaindonesia.com lalu menulis berita itu seperti ini: "Adik ipar wartawan tertangkap nyabu di sebuah kos-kosan di Taman Sari 1A, Kelurahan Mapar, Jakarta Barat. Dia kedapatan memiliki 0,5 gram sabu-sabu dan alat penghisapnya. Pria karyawan hotel di Jakarta Pusat itu pukul 01.30, Sabtu, 11 Februari 2012.

"Satnarkoba Polres Jakbar telah melakukan penangkapan terhadap tersangka ID, 30 tahun, pekerjaan karyawan suatu hotel di Jakpus merupakan adik ipar dari rekan wartawan," ujar Kepala Divisi Humas Polri,Irjen Saud Usman Nasution di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (16/2).

Menurut dia, saat ini, ID ditahan di Polres Jakarta Barat. Saud menuturkan, pada waktu itu, kakak ipar ID yang seorang karyawan media online sempat menjenguk ke Polres Jakbar. Namun, hal itu memunculkan kabar, sang kakak iparlah yang tertangkap. "Memang waktu itu rekan wartawan ini datang ke Polres Jakbar untuk mengecek adik iparnya tapi entah bagaimana diisukan malah dia yang tertangkap," tukasnya."

Isu bisa menimpa siapa pun. Dari kasus di atas, pihak (sosok) yang terkena isu adalah Muchlis Hasjim. Pertanyaannya bagaimana Muchlis Hasyim mengelola isu tadi? Gampang! Dia cukup membuat pernyataan atau klarifikasi lewat media yang dimiliki atau jaringan yang dia punyai dengan menunjukkan bukti-bukti baru.

Urusan mengelola isu dan pendapat umum menjadi panjang jika belakangan terbukti nama yang terinisial MHJ itu adalah Muchlis Hasyim Jahja. Sebagai seorang teman, saya tentu berharap, semua itu hanya isu, karena "wartawan" sembrono atau tidak akurat dalam memilih dan memilah fakta.

Atau jangan-jangan ada "skenario" yang diembuskan pihak-pihak tertentu yang ingin menjatuhkan Muchlis Hasyim? Siapa tahu? Pasalnya, media massa -- termasuk situs berita dan situs jejaring sosial -- sangat efektif untuk menyebarluaskan isu dalam rangka membangun opini publik agar masyarakat tersesat.***







Minggu, 25 Desember 2011

Natal, GKI Yasmin dan Surat Terbuka untuk Tuhan

MAAFKAN saya Tuhan, karena pada hari ini, Minggu 25 Desember 2011 saya telah lancang menulis surat kepada-Mu melalui blog dan saya sebarluaskan lewat Facebook.


Saya tidak tahu Tuhan, di sorga sana, apakah Engkau juga punya akun semacam itu. Tapi saya yakin, tanpa internet, Engkau pasti tahu apa yang akan saya sampaikan, bahkan pikiran saya yang belum sempat saya tuangkan melalui surat terbuka ini.

Saya percaya Engkau tidak berada di jauh sana, tapi berada di hati manusia. Ya, berada di hati kami, tanpa kecuali, termasuk saudara-saudara kami anggota Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor yang mengalami kesulitan untuk berjamaah menyembah-Mu dan saudara-saudara kami yang keberatan saudara-saudaranya bersukacita menggunakan bakal tempat ibadah di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat.

Saya senang Tuhan, Engkau menempatkan kami, tinggal dan berdiam di negeri yang bagi kami merupakan "sorga kecil" pemberian-Mu. Sorga kecil yang begitu indah nan memesona. Di sini kami hidup saling berbagi dan memahami. Kami memiliki saudara yang baik-baik, meskipun kami berbeda cara dalam menyembah-Mu.

Terimakasih Tuhan, Engkau beri rahmat tak terkira itu kepada kami. Hari ini, Minggu 25 Desember 2011, kami memperingati kelahiran Yesus Kristus yang populer dengan sebutan "Natal". Saya beriman, Yesus adalah bagian dari "skenario" besar karya-Mu yang jujur saja saya tidak tahu awal dan akhirnya nanti seperti apa, sebab sepertinya Engkau sengaja membiarkan anak-anak-Mu di dunia ini memiliki tafsir sendiri-sendiri atas diri Yesus.

Kembali kepada keberadaan kami di Indonesia, hari ini kami senang, sebab saudara-saudara kami tanpa memandang cara kami menyembah-Mu saling memberikan ucapan selamat Natal lewat jabatan tangan, kirim pesan singkat (SMS) dan BBM (BlackBerry Messenger). Saudara-saudara kami begitu tulus mengucapkannya, dan hampir semuanya menyampaikan salam damai di bumi dan damai di hati.

Tapi Tuhan, sebagian kecil -- ya sebagian kecil -- di antara saudara-saudara kami di Bogor rupanya belum mampu memaknai kata damai, sehingga belum merelakan saudara-saudaranya yang berbeda iman merayakan Natal di tempat ibadah yang "disengketakan" oleh Bapak Walikota Bogor.

Tuhan, hari ini saya mendengar kabar sebagaimana disiarkan televisi dan situs-situs berita, bahwa anak-anak-Mu yang juga Engkau kasihi seperti Engkau mengasihi anak-anak-Mu yang lain tetap tidak diperkenankan mengadakan kebaktian Natal di "rumahnya" sendiri.

Tuhan, saya kutip sebagian informasi itu untuk saya sampaikan kepada-Mu, meskipun di atas sana, dengan tatapan mata-Mu, Engkau pasti melihat bagaimana anak-anak-Mu yang Engkau kasihi ada yang menangis dan ada yang marah -- mungkin juga puas -- karena berhasil menghalau saudara-saudaranya yang berniat mengadakan ibadah Minggu yang kebetulan jatuh pada hari Natal.

Tuhanku yang Mahabesar yang tidak pernah membeda-bedakan kami, inilah cuplikan informasi itu:

"Puluhan jemaat GKI Yasmin yang sebagian besar mengenakan kemeja putih sempat mencoba untuk beribadah di tepi jalan, tepat di pintu Kompleks Taman Yasmin. Namun pada saat jemaat akan berdoa begitu lilin Natal dinyalakan, warga atau massa yang tidak setuju keberadaan GKI Yasmin berteriak-teriak agar ibadah dibubarkan."

"Sempat terjadi kericuhan dan adu mulut antara polisi dan warga yang menolak GKI Yasmin. Untuk menghindari bentrokan, ratusan aparat gabungan yang sudah bersiaga sejak pagi langsung membubarkan jemaat yang akan beribadah dan warga yang keberatan."

Terimakasih, Tuhan, dalam situasi seperti itu, Engkau selalu menghadirkan "juru selamat", seorang perempuan yang selama ini dianggap lemah bernama Lily Wahid, adik kandung mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid.

Lily hadir di antara jemaat GKI Yasmin yang hendak beribadah di GKI Yasmin yang berlokasi di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Saya tidak tahu Tuhan, apakah Engkau izinkan Lily pada hari Minggu (25 Desember 2011) pagi itu marah? Seraya mendampingi jemaat GKI Yasmin, Lily menyebut bahwa Walikota Bogor yang mengabaikan keputusan Mahkamah Agung yang mengizinkan GKI Yasmin berdiri di Bogor sebagai "konyol".

Tuhan, dengan nada emosi, Lily mengatakan bahwa Presiden dan Kapolri harus turun tangan. "Mengapa warga negaranya tidak boleh beribadah di situ. Perintah MA itu jelas. Kita ini disorot oleh internasional. Malu kita," kata Lily.

Tuhan, apakah yang disuarakan Lily adalah suara-Mu? Dia mengatakan Kapolri sebaiknya segera menindak oknum yang melarang jemaat GKI Yasmin beribadah di Bogor. "Tidak ada undang-undang yang melarang orang beribadah.Kalau polisi tidak bisa mengamankan keputusan MA, Kapolri sebaiknya berhenti. Kita hidup rukun puluhan tahun, kok bisa sekarang seperti ini. Ini keterlaluan."

Tuhan, saya tidak tahu, kapan dinamika yang menimpa saudara-saudara kami di GKI Yasmin dan saudara-saudara kami yang keberatan saudara-saudaranya menyembah-Mu di sana berakhir?

Saya percaya, masa bahagia itu akan tiba pada saatnya. Saya percaya, Engkau telah memakai Walikota Bogor sebagai alat bagi jemaat GKI Yasmin untuk tegar, kuat dan teguh. Walikota Bogor dan juga saudara-saudara kami yang menolak keberadaan GKI Yasmin merupakan alat bagi jemaat GKI Yasmin untuk menjadi batu karang yang kuat dan tetap berdiri kendati diterjang ombak sedahsyat apa pun.

Karena itu, ya Tuhan, berikanlah kebijaksanaan kepada Walikota Bogor Diani Budiarto. Sertailah dia, sehingga dia tetap patuh pada perintah-Mu dan mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Sertai dia ya Tuhan agar beliau senantiasa hormat kepada hukum dan keputusan-keputusan negara.

Tuhanku yang Mahabijaksana, lindungi dan berikanlah limpahan berkat sorgawi kepada saudara-saudara saya yang menolak saudara-saudaranya menyembah-Mu di GKI Yasmin Bogor. Saya percaya, saudara-saudara kami itu tidak tahu apa yang dilakukannya. Karena itu, oh Tuhan, ampuni saudara-saudara kami itu. Saya percaya pada saatnya marah mereka akan berganti tawa dan sukacita.

Tak lupa Tuhan, saya juga mohon kepada-Mu beri kebijaksanaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pembantunya agar mampu menyelesaikan "pekerjaan rumah" ini sehingga nama-Mu semakin dimuliakan di bumi pertiwi. Kami tidak ingin, Indonesia, sorga ciptaanmu yang nan indah itu ternoda hanya gara-gara keegoisan kami.

Tuhan, demikian surat terbuka saya kepada-Mu. Terimakasih, Engkau sudah membaca dan mendengar kata-kata anak-Mu yang lancang ini. Terimakasih, Engkau juga sudah mengasihi bangsa kami tanpa kecuali.***



Kamis, 22 Desember 2011

Bahasa Jurnalistik: Monica Selviana, "Beliau" Finalis KDI Lho


FINALIS Kontes Dangdut Indonesia (KDI) Monica Selviana dan foto model Rosemarry adalah dua dari 70 mahasiswa Universitas Esa Unggul yang saya dampingi belajar bahasa Indonesia jurnalistik, mata kuliah yang menurut mahasiswa, "menyeramkan".

"Menyeramkan", karena saat ujian tengah semester yang lalu, banyak di antara para mahasiswa yang mendapat nilai "jeblok". Sulitkah menulis menggunakan bahasa Indonesia jurnalistik yang singkat, jelas, padat, sederhana, demokratis dan logis?

Jawabnya sudah pasti gampang asal para mahasiswa disiplin hadir tepat waktu di kelas, mengikuti secara teratur perkuliahan, mendengarkan apa yang disampaikan doden, dan terus berlatih menulis (mengerjakan tugas).

Setiap pekan, saya selalu memberi tugas kepada para mahasiswa agar menulis dengan menggunakan bahasa jurnalistik. Objek yang mereka tulis adalah berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kampus.

Tulisan (karya jurnalistik) mereka, di mata saya, tetap belum memuaskan. Tata cara berbahasa (tulis) tetap mereka langgar, padahal saya merasa sudah berbusa-busa menjelaskan bagaimana menulis dengan bahasa yang baik dan benar.

Para mahasiswa tampaknya mengalami kendala saat harus menuangkan fakta ke dalam sebuah tulisan, atau jangan-jangan objek yang mereka tulis tidak menarik, sehingga mereka ogah-ogahan melaksanakan tugas yang diberikan sang dosen.

Beruntung, di kelas yang berbeda ada Rosemarry (foto samping kiri) dan Monica Selviana (atas). Pekan lalu (Kamis 15 Desember 2011), keduanya saya minta menjadi nara sumber. Rosemarry berada di kelas pukul 08.20 dan Monica kelas pukul 10.00.

Di kelas yang berbeda, Rosemarry dan Monica saya wawancarai (mirip acara talk show di televisi). Para mahasiswa yang mendengar saya anggap sebagai wartawan. "Anggap saja diri Saudara wartawan dan bekerja di sebuah media cetak dan Anda ditugaskan untuk menulis sosok artis yang sekarang berada di depan Saudara," kata saya.

Saya berharap para mahasiswa lebih bergairah ketika menulis tema tulisan atau liputan yang kali ini lebih seksi daripada biasanya. Kebetulan nara sumbernya, menurut mahasiswa, juga seksi.

Rosemarry. Siapa sebenarnya Rosmemarry? Perempuan yang lahir di Lampung 17 Juli 1993 ini adalah mahasiswi semester pertama public relations fakultas ilmu komunikasi. Selain berprofesi sebagai foto model (sosoknya pernah tampil di sampul majalah Audio Life Style), Rosemarry juga seorang pembawa acara (MC).

Mahasiswi ini juga pernah memerankan tokoh dalam film 13 Cara Memanggil Setan dan Drakula Cinta, film horor yang akan diputar di bioskop Februari 2012.

Monica Selviana. Sama seperti Rosemarry, Monica Selviana juga pernah main dalam film Sumpah Ini Pocong. Dalam film tersebut Monica berakting bersama Julia Perez dan Jarwo Kuat.

Tahun 2007 lalu, namanya masuk dalam empat besar KDI yang digelar stasiun televisi TPI (sekarang MNC). Monica Selviana juga main dalam sinetron Susuk Barbie, Calon Pengantin, dan Gw di Antara Pacar yang ditayangkan salah satu stasiun televisi.

Para mahasiswa kali ini memang bergairah mendengarkan saat saya mewawancarai Rosemarry di kelas pukul 08.20 dan Monica Selviana di kelas pukul 10.00.

Kegairahan serupa juga terlihat dari tulisan (hasil tugas) yang mereka kumpulkan pada Kamis (22 Desember 2011). Tapi, ya itu tadi, sebagian besar mahasiswa tetap menganggap remeh saat menulis menggunakan bahasa jurnalistik yang baik dan benar.

Mengoreksi karya mereka, saya tetap menemukan kesalahan yang terus diulang-ulang para mahasiswa, yaitu:

1. Mengabaikan penggunaan tanda baca.
2. Tidak bisa membedakan kapan menulis kata "di" harus dipisah dan disambung.
3. Mengabaikan logika.
4. Asal menuangkan kata dan kalimat.
5. Abai kapan harus menggunakan huruf besar dan kecil.
6. Tidak sadar saat memilih kata-kata kunci, terutama saat menulis paragraf pertama (lead). Ujung-ujungnya, lead tidak menarik.
7. Mengulang kata yang sama dalam satu kalimat.
8. Menulis kalimat berkepanjangan bak ketiak ular.

Bahkan ada mahasiswa yang tidak (mengenal?) kata "ia" (dia); yang bersangkutan menulis kata "iya" untuk orang ketiga (ia). Saya kutip apa adanya:

Rosemarry sangatlah menyukai dunia MC, selain menjadi MC iya pun berkiprah menjadi pemain film dan foto model. Iya adalah sosok wanita yang sangat berbakat, awal mulainya berkiprah menjadi MC sejak tahun 2007 ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Hingga saat ini, iya pun masih menjalani aktifitas tersebut dengan baik yaitu menjadi seorang MC yang handal.

Rosemarry sangat menyukai MC sejak kecil, mengapa "karena saya suka berbicara di depan umum" ujarnya. Banyak pengetahuan yang di dapat dalam pengalaman rosemarry selama menjadi MC, dia pun kerap bertemu dengan orang-orang penting ketika sedang membawakan acara MC.


Komentar dosen:
Kalimat yang ditulis mahasiswa di atas tidak jelas subjek dan predikatnya. Tidak akurat dalam menulis tanda baca dan penggunaan huruf besar dan kecil. Logika pun dilanggar. Perhatikan kalimat: "Hingga saat ini, iya pun masih menjalani aktifitas tersebut dengan baik yaitu menjadi seorang MC yang handal." Benarkah menjadi seorang MC yang andal (yang benar andal, bukan handal) itu sebuah aktivitas (yang benar aktivitas, bukan aktifitas)?

Contoh pelanggaran logika juga terdapat di dalam kalimat: "... dia pun kerap bertemu dengan orang-orang penting ketika sedang membawakan acara MC." Sedang membawakan acara MC itu apa sih?

Kalimat di atas (teksnya, bukan konteks) akan lebih baik jika ditulis seperti ini:


Rosemarry sangat menyukai dunia public speaking. Ia berbakat menjadi MC andal. Ia mulai berkiprah menjadi MC sejak 2007 ketika masih duduk di kelas dua SMP. Selain menjadi MC, Rosmerry juga pemain film dan foto model. Beraktivitas sebagai pembawa acara tetap ia jalani hingga saat ini.

Mengapa Rosemarry menyukai dunia MC, bahkan sejak kecil? "Karena saya suka berbicara di depan umum," ujarnya. Menurut dia, banyak pengetahuan yang dia peroleh saat membawakan acara, antara lain kerap bertemu dengan orang-orang penting.

***
Ada pula mahasiswa yang main hantam kromo saat menuangkan gagasan ke dalam tulisan, sehingga tata cara penggunaan huruf besar dan kecil dilanggar, begitu pula penempatan awalan "di". Ini contohnya(saya kutip sebagaimana adanya):

Rosemery mahasiswi Universitas Esaunggul jurusan public relation adalah seorang model, mc dan pemain film. Film yang dibintanginya antara lain 13 cara memanggil setan dan drakula cinta. Dia memulai karirnya sejak tahun 2007, ketika ia masih duduk dibangku kelas 2 Smp. Sebelumnya mery, begitu panggilannya, pernah kursus disanggar mariska yang beralamat di tanah abang Jakarta pusat, selama 1 tahun. Disana dia mempelajari cara berekting, modeling, dan bagaimana cara menjadi mc yang baik.

Halo para mahasiswa, apa sih susahnya kalian menulis kalimat di atas dengan lebih tertib dan rapi seperti ini:

Rosemarry, mahasiswi Universitas Esa Unggul jurusan public relations adalah seorang model, pembawa acara (MC) dan pemain film.

Film yang pernah dibintanginya antara lain 13 Cara Memanggil Setan dan Drakula Cinta. Dia meniti karier sebagai MC sejak 2007. Waktu itu dia masih duduk di kelas dua SMP.

Sebelumnya, Mery, begitu panggilannya, pernah kursus public speaking selama satu tahun di Sanggar Mariska di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di sanggar ini, Mery juga belajar akting dan modeling.

***
Tulisan tentang Monica Selviana

Sekarang mari kita evaluasi mahasiswa yang menulis sosok Monica Selviana. Lagi-lagi, ada mahasiswa yang "nyerocos" menulis tanpa aturan seperti ini:

Monica selviana gadis cantik yang lahir di jakarta dia adalah kontestan Dangdut KDI 2007, monica menjadi finalis dan masuk empat besar dan terfavorit. Motivasi monica mengikuti kontes dangdut KDI ingin sukses di ajang festival dan ingin meraih cita-citanya yang sejak kecil, monica sejak kecil sudah hobi bernyanyi di dalam dirinya sudah ada darah seni dari ibunda. Dia bernyanyi sejak SD, monica mengikuti kontes dangdut KDI mewakili DKI jakarta monica juga termasuk gadis yang kreatif dan tidak mudah menyerah untuk menggampai apa yang dia inginkan dia selalu berusaha untuk maju.


Komentar dosen: Capek deh membaca kalimat di atas. Itulah yang saya maksud dengan kalimat bak (seperti) ketiak ular, panjang lebar tanpa tujuan yang jelas. Pokok kalimat dan anak kalimat tidak jelas.

Kalau mahasiswa yang menulis sosok Monica Selviana di atas mau berpikir jernih, sebenarnya dia bisa lho menulis fakta atau informasi itu seperti ini:

Monica Selviana. Gadis cantik yang lahir di Jakarta ini adalah peserta Kontes Dangdut Indonesia (KDI)2007 yang diselenggarakan stasiun televisi TPI. Di ajang itu, Monica menjadi finalis, masuk empat besar dan terpilih sebagai peserta terfavorit.

Monica termotivasi mengikuti KDI, karena ia ingin sukses menjadi penyanyi kondang yang dicita-citakannya sejak kecil. Saat masih kanak-kanak, Monica senang bernyanyi dan jadi hobi.

Darah seni sudah melekat dalam dirinya. Pasalnya, sang bunda juga penyanyi. Ikut KDI, Monica mewakili DKI Jakarta.

Monica termasuk gadis kreatif dan tidak mudah menyerah dalam berupaya menggapai apa yang dia inginkan. Dia selalu berusaha untuk maju.

***
Berkali-kali saya menjelaskan bahwa salah satu sifat bahasa jurnalistik adalah demokratis. Tapi masih saja ada mahasiswa yang menulis kata "beliau" untuk menggantikan orang ketiga. Celakanya, kata ini terus diulang-ulang seperti ini:


Saya mempunyai beberapa teman sekelas, diantaranya sekian banyak teman, ada satu teman yang bernama monica selviana, beliau sempat mengikuti KDI pada thn 2007. Sejak kecil beliau memang mempunyai hobby menyanyi. Beliau satu bersaudara, dan beliau lahir di jakarta. Pada saat monica mengikuti KDI, beliau masuk final sampai 4 besar, dan beliau mendapatkan peringkat 4 terfavorite.


Waduh, gimana sih? Memangnya Monica ratu dari mana, sehingga Anda menyebut dia dengan kata "beliau"? Coba baca deh semua surat kabar yang terbit di Indonesia, tunjukkan kepada saya, adakah di antara surat kabar itu yang menulis Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dengan sebutan "beliau"?


***

Halo para mahasiswa, karya Anda yang tidak sempat saya ulas di catatan ini bukan berarti apa yang Anda tulis sudah sempurna. Beberapa contoh di atas sebenarnya merupakan representasi dari karya-karya yang telah Anda buat. Konkretnya, apa yang Anda tulis nggak jauh-jauh amat dari sampel di atas.

Tapi Anda jangan putus asa atau mutung, lalu berkesimpulan bahwa menulis menggunakan bahasa Indonesia jurnalistik sebagai sesuatu yang sulit, apalagi menyeramkan.

Tidak! Menulis sesuatu tidak sesulit dan seseram yang Anda bayangkan. Agar Anda mampu menulis, modalnya hanya disiplin dan punya kemauan, serta tidak menganggap sepele mata kuliah yang saya ajarkan. Banyaklah membaca. Buktinya, ada lho kawan Anda yang lumayan bagus dalam menulis. Selamat belajar.

Pada kesempatan ini, perkenankan saya mengucapkan selamat Natal kepada Anda yang merayakan dan jadikan Kristus sebagai pijakan Anda dalam berperilaku, sehingga Anda pun bisa membawa terang kepada banyak orang.

Selamat Tahun Baru 2012 buat Anda semua. Semoga di tahun yang baru, Anda tetap memiliki semangat baru dan menggapai kesuksesan.***






Kamis, 01 Desember 2011

Apa Sih Langkah Spesifik Menulis Berita?

SESEORANG mengaku beruntung menemukan blog saya yang kini tengah Anda kunjungi. "Wah beruntung sekali saya menemukan blognya Bapak. Kalau boleh tahu apa sih langkah-langkah spesifik menulis sebuah berita?" komentarnya (sudah saya edit).

Wow, rupanya Fatan, pengunjung tersebut tertarik dengan tulisan saya, khususnya catatan saya tentang jurnalistik. Di blog ini saya kerap menulis catatan kuliah setelah saya mendampingi mahasiswa belajar menulis berita dan bahasa Indonesia jurnalistik, masing-masing di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) dan Universitas Esa Unggul.

Fatan rupanya tertarik dengan dunia jurnalistik dan ingin mahir menulis berita. Dia mengungkapkan: "Saya ngeblog sih sudah lama, tapi ya itu Pak, nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. Mohon berikan referensi lainnya, saya juga sudah membookmark blog Bapak."

Setelah membaca catatan saya yang lain, dia menulis: "Sudah enam halaman saya baca dari halaman Bapak dan ternyata saya masih lapar sampai akhirnya istri saya memanggil saya untuk sarapan. Di halaman yang lain saya minta tolong sama Bapak untuk memberikan referensi belajar cepat jurnalistik, mohon direspons, terimakasih."

Dalam hati saya berkomentar, belajar apa pun, termasuk ilmu jurnalistik (menulis berita) tidak bisa instan (cepat), tapi membutuhkan proses dan ketekunan berlatih. Tanpa kesabaran dan praktik, kita belajar dan mengetahui teori apa pun bakal mubazir. Saya menulis apa pun yang menurut saya perlu saya tulis di blog ini juga dalam rangka belajar dan berlatih. Selain itu saya juga ingin memotivasi para mahasiswa yang saya dampingi berani menulis. Lagi pula lucu rasanya dosen mengajarkan bagaimana menulis berita (menggunakan bahasa jurnalistik) kepada mahasiswa, tapi sang dosen tidak pernah memberikan contoh (menulis).

Penasaran dengan Fatan, hari ini (Kamis 1 Desember 2011) saya membuka blognya yang diberi nama "Sumber Cara". Rupanya Fatan senang menulis. Sebagian besar tulisannya mengupas soal jurnalistik.

Fatan, sebagaimana diakuinya (bahasa yang digunakan amburadul), memang agak ceroboh dalam menggunakan dan menempatkan tanda baca, juga pilihan kata. Tapi apa pun kekurangannya, saya tetap memberikan apresiasi, sebab dia berani menulis.

Memberikan komentar atas catatan saya, Fatan minta agar saya mengajarkan bagaimana menulis berita. Aneh juga, sebab di dalam blognya, Fatan juga menulis dan menjelaskan tentang 5 W + 1 H, rumus penulisan berita.

++++

Okelah Pak Fatan, memenuhi permintaan Anda, dalam kesempatan ini izinkan saya memberikan contoh fakta/peristiwa yang bisa ditulis jadi berita. Dalam kasus ini, saya akan memberikan contoh yang paling sederhana, yaitu apa yang Anda lakukan setelah membaca blog saya. Saya berasumsi Anda adalah orang penting, sehingga layak jadi berita. Karena Anda orang penting, maka nama Anda akan saya tempatkan di awal kalimat lead berita seperti ini:

1. Who lead

Fatan, seorang penulis, Kamis (1 Desember) menyatakan tertarik dengan konten Write Now, blog yang dikelola Gantyo Koespradono, wartawan Media Indonesia.

Dalam komentarnya di salah satu artikel di blog tersebut, Fatan yang tinggal di Jakarta mengatakan beruntung menemukan blog yang banyak mengupas mengenai jurnalistik, bidang yang juga disenangi.

Setelah membaca beberapa tulisan di blog itu, Fatan memohon kepada pengelola blog agar membimbing bagaimana menulis berita. "Kalau boleh tahu apa sih langkah-langkah spesifik menulis sebuah berita?" tulisnya.

Fatan mengungkapkan dia juga punya blog. "Saya ngeblog sudah lama, tapi ya itu Pak, nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. Mohon berikan referensi lainnya," harapnya.***


Halo, Pak Fatan (juga Anda yang kebetulan membaca catatan ini), seorang penulis berita (wartawan) harus kreatif dalam merangkai kata. Fakta yang sama bisa ditulis dengan menggunakan lead yang berbeda, seperti ini:


2. What Lead

Catatan wartawan Media Indonesia Gantyo Koespradono yang dimuat di blognya, Write Now, menarik perhatian pengunjung, Fatan, seorang penulis.

Dalam komentarnya yang diposting pada Kamis (1 Desember), Fatan mengungkapkan ingin belajar menulis berita kepada Gantyo yang juga dosen beberapa perguruan tinggi swasta ini.

Setelah membaca beberapa tulisan di blog itu, Fatan memohon, "Kalau boleh tahu apa sih langkah-langkah spesifik menulis sebuah berita?" tulisnya.

Fatan mengungkapkan dia juga punya blog. "Saya ngeblog sudah lama, tapi ya itu Pak, nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. Mohon berikan referensi lainnya," harapnya.***

3. When Lead

Kamis (1 Desember), Fatan, seorang penulis, mengungkapkan tertarik dengan blog Write Now yang dikelola Gantyo Koespradono, wartawan Media Indonesia.

Dalam komentarnya di salah satu artikel di blog tersebut, Fatan yang tinggal di Jakarta mengatakan beruntung menemukan blog yang banyak mengupas mengenai jurnalistik, bidang yang juga disenangi.

Setelah membaca beberapa tulisan di blog itu, Fatan memohon kepada pengelola blog agar membimbing bagaimana menulis berita. "Kalau boleh tahu apa sih langkah-langkah spesifik menulis sebuah berita?" tulisnya.

Fatan mengungkapkan dia juga punya blog. "Saya ngeblog sudah lama, tapi ya itu Pak, nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. Mohon berikan referensi lainnya," harapnya.***


4. Where Lead

Di Jakarta, Fatan, seorang penulis, Kamis (1 Desember) mengungkapkan tertarik dengan blog Write Now yang dikelola Gantyo Koespradono, wartawan Media Indonesia.


Dalam komentarnya di salah satu artikel di blog tersebut, Fatan yang tinggal di Jakarta mengatakan beruntung menemukan blog yang banyak mengupas mengenai jurnalistik, bidang yang juga disenangi.



Setelah membaca beberapa tulisan di blog itu, Fatan memohon kepada pengelola blog agar membimbing bagaimana menulis berita. "Kalau boleh tahu apa sih langkah-langkah spesifik menulis sebuah berita?" tulisnya.



Fatan mengungkapkan dia juga punya blog. "Saya ngeblog sudah lama, tapi ya itu Pak, nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. Mohon berikan referensi lainnya," harapnya.***



5. Why Lead

Karena tertarik dengan catatan yang ditulis Gantyo Koespradono, wartawan Media Indonesia, dalam blog Write Now, Fatan, seorang penulis menyatakan ingin belajar menulis berita kepada sang pengelola blog.

Dalam komentarnya di salah satu artikel di blog tersebut, Fatan yang tinggal di Jakarta mengatakan beruntung menemukan blog yang banyak mengupas mengenai jurnalistik, bidang yang juga disenangi.

Setelah membaca beberapa tulisan di blog itu, Fatan memohon kepada pengelola blog agar membimbing bagaimana menulis berita. "Kalau boleh tahu apa sih langkah-langkah spesifik menulis sebuah berita?" tulisnya.

Fatan mengungkapkan dia juga punya blog. "Saya ngeblog sudah lama, tapi ya itu Pak, nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. Mohon berikan referensi lainnya," harapnya.***


6. How Lead

Dengan menggunakan kalimat pendek-pendek, Fatan, seorang penulis, di Jakarta, Kamis (1 Desember) mengungkapkan tertarik dengan blog Write Now yang dikelola Gantyo Koespradono, wartawan Media Indonesia.

Dalam komentarnya di salah satu artikel di blog tersebut, Fatan menulis beruntung menemukan blog yang banyak mengupas mengenai jurnalistik, bidang yang juga disenangi.

Setelah membaca beberapa tulisan di blog itu, Fatan memohon kepada pengelola blog agar membimbing bagaimana menulis berita. "Kalau boleh tahu apa sih langkah-langkah spesifik menulis sebuah berita?" tulisnya.

Fatan mengungkapkan dia juga punya blog. "Saya ngeblog sudah lama, tapi ya itu Pak, nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. Mohon berikan referensi lainnya," harapnya.***

++++

Benar, dalam menulis berita, kuncinya memang terletak di lead (paragraf pertama). Fakta apa pun bisa kita "rekayasa" menjadi berita.

Bagaimana menulis berita dan karya jurnalistik lainnya telah saya tulis di dalam buku saya berjudul Cara Andal Jadi Tenar--Kreatif Menulis Efektif di New Media (Gramedia Pustaka Utama). Jika Pak Fatan berniat memilikinya, silakan kunjungi Toko Buku Gramedia, mudah-mudahan masih ada stok.

Penjelasan lebih rinci tentang apa dan bagaimana menulis berita, feature dan sebagainya juga saya tuangkan di buku saya yang lain, Merekayasa Fakta Menjadi Berita. Buku ini dicetak dalam jumlah terbatas.

Jika Pak Fatan dan Anda berminat memiliki buku tersebut, silakan saja kontak penerbitnya lewat Bp Rizal di nomor 0815-10035995. Siapa tahu Anda direkrut jadi distributor buku tersebut.

Akhirnya saya ucapkan selamat belajar dan menulis apa pun yang layak untuk Anda tulis.***

Tuhan, Saya dan Burung Rajawali

TADI malam (Rabu, 30 November 2011) saat akan tidur, saya menangis. Eh, istri ikut-ikutan menangis. Kamis pagi awal Desember 2011 mata kami masih sembab. Sekitar pukul 07.00 saat saya dalam perjalanan menuju ke kampus, istri mengirim pesan melalui BlackBerry Messenger (BBM): “Ayah sudah sampai mana? Mama dan anak-anak sayang Ayah.”

Pesan itu saya baca setelah saya memarkirkan mobil di halaman kampus Universitas Esa Unggul. Pagi itu saya tugas mengajar di kampus yang terletak di sisi tol Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Semalam saya memang gelisah memikirkan sesuatu menyangkut hubungan saya dengan anak laki-laki saya yang telah menginjak dewasa, karena komunikasi saya dengannya tidak pernah nyambung, dan saya merasa terpojok dalam posisi serba salah, sehingga dia berhak untuk memarahi saya, meskipun saya adalah ayahnya.

Pesan istri di atas tentu dia maksudkan untuk menghibur saya. Saya terharu membacanya. Hiburan datang tepat pada waktunya. Beberapa detik kemudian masuk lagi ke BB saya, pesan dari grup Persekutuan Doa Media Indonesia yang membuat saya benar-benar terhibur. Isinya seperti ini:

Pernahkah...
Saat kau duduk santai dan menikmati harimu, tiba-tiba kamu terpikirkan ingin berbuat sesuatu kebaikan untuk seseorang?

Itu adalah TUHAN...yang sedang berbicara denganmu dan mengetuk hatimu.

Pernahkah...
Saat kau sedang sedih... kecewa... tetapi tidak ada orang di sekitarmu yang dapat kau jadikan tempat curahan hati?

Itulah saatnya di mana TUHAN...ingin agar kamu berbicara pada-NYA.

Pernahkah...
Kamu tanpa sengaja memikirkan seseorang yang sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba orang tersebut muncul atau kamu bertemu dengannya atau menerima telepon darinya?

Itu adalah kuasa Tuhan yang sedang menghiburmu. Tidak ada namanya kebetulan.

Pernahkah...
Kamu mengharapkan sesuatu yang tidak terduga yang selama ini kamu inginkan, tapi rasanya sulit untuk didapatkan?

Itu adalah Tuhan... yang mengetahui dan mendengar suara batinmu.

Pernahkah...
Kau berada dalam situasi yang buntu, semua terasa begitu sulit, begitu tidak menyenangkan, hambar, kosong, dan bahkan menakutkan?

Itu adalah saat di mana Tuhan mengizinkan kamu diuji, supaya kamu menyadari keberadaanNYA. Dia tahu kamu sudah mulai melupakanNYA dalam kesenangan.

Sering Tuhan mendemonstrasikan KASIH dan KUASANYA di dalam area di mana saat manusia merasa dirinya tak mampu.

Apakah kau pikir tulisan ini hanya iseng terkirim padamu?

TIDAK! Sekali lagi TIDAK ada yang kebetulan. Melalui aku, Tuhan sedang memikirkanmu.

Beberapa menit ini tenangkanlah dirimu. Rasakan kehadiranNYA. Dengarkan suaraNYA yang berkata:
"Jangan khawatir anakKU. AKU ada di sini bersamamu!"

Ketika aku melihat nama-nama penerima tulisan ini, aku bersyukur pada Tuhan karena aku bisa mengenal kamu.

Tersenyumlah. Bersukacitalah.

GOD KNOWS what is the BEST for you. Because He loves you more than you love yourself.


*******


Pesan di atas benar-benar bukan karena kebetulan. Datang di saat yang amat tepat di saat saya kerap melamun, bahkan di jalan raya saat saya sedang mengemudikan mobil. Saat menghadapi persoalan, beberapa kali saya terus melajukan mobil saya padahal saya harus berbelok, begitu pula saat harus berbelok, saya tetap melaju.

Pagi itu (Kamis 1 Desember 2011) Tuhan telah "berbicara" kepada saya. Benar, GOD knows what is the best for you. Because He loves you more than you love yourself. Ya, Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita, sebab dia selalu mencintai lebih dari cinta kita terhadap diri kita sendiri.

Saya akhirnya menyadari, segala sesuatu, yang buruk sekalipun, jika akhirnya membuat diri kita kuat, sesungguhnya yang buruk adalah baik.

Kita harus bisa tangguh seperti burung rajawali yang berjuang sendirian dan mengalami rasa sakit luar biasa sebelum menjadi rajawali yang benar-benar perkasa dan bisa terbang tinggi menembus awan dan badai.

Untuk Anda ketahui, di saat rajawali menua, dia sendirian mencari ke tempat yang sunyi untuk mendapatkan kekuatan baru agar bisa terbang tinggi. Dia mengasah kukunya ke batu karang dan merontokkan bulu-bulunya agar tercerabut dari tubuhnya guna mendapatkan bulu baru. Semua itu tentu menyakitkan. Tapi setelah melalui proses itu, sang rajawali punya semangat baru.

Saya akhirnya bisa mengucap syukur, sebab istri dan anak-anak membiarkan saya atau memberikan kesempatan kepada saya untuk berjuang sendirian, termasuk saat menyiapkan “warisan” buat mereka.

Malam itu saya menjelaskan kepada istri bahwa kelak jika saya telah tiada, warisan paling berharga yang akan saya tinggalkan adalah buku-buku yang saya tulis, tulisan saya yang saya simpan di laptop dan catatan yang saya tuangkan di blog ini, di samping beberapa lagu yang saya ciptakan dan telah menjadi RBT yang bisa diakses di sini.

Dua aktivitas itu saya lakukan sendirian. Bahkan ketika lagu-lagu saya telah menjadi RBT, saya juga mempromosikannya sendirian. Anak-anak praktis tidak pernah mendengarkan lagu yang dibuat bapaknya sendiri, apalagi membantu “menjualnya”. Juga terhadap buku-buku yang saya tulis.

Tidak! Salah besar jika saya minta dukungan, sebab Tuhan sepertinya menghendaki saya menjadi burung rajawali yang bisa terbang tinggi tanpa bantuan dan dukungan siapa pun.

Bagaimana dengan Anda?***

Senin, 28 November 2011

Lagi, Belajar Menulis Berita

"APA lagi syarat seorang jurnalis," kata saya kepada mahasiswa yang saya dampingi menulis berita, Sabtu, 26 November 2011.

Mereka lalu menjawab: ulet, disiplin, sabar, jujur, bawel, pantang menyerah, dan masih banyak lagi.

Sebelumnya saya menjelaskan bahwa seorang wartawan, selain harus kreatif, juga harus bisa memilih dan memilah mana peristiwa yang menarik dan penting untuk ditulis menjadi berita.

"Jangan menulis berita yang peristiwanya biasa-biasa saja. Wartawan harus peka terhadap keinginan pembaca, cari informasi atau fakta yang penting dan menarik bukan untuk diri sendiri, tapi buat sebanyak mungkin orang," kata saya.

Saya lalu minta kepada para mahasiswa agar mereka membuat kelompok, dan masing-masing kelompok meliput berbagai peristiwa di sekitar kampus. Terbentuk enam kelompok.

"Tulis hasil liputan kelompok Saudara dan kirim ke email saya. Dead line pukul 10.00," kata saya. Jam saat itu menunjukkan pukul 08.40 WIB.

Jam menunjukkan pukul 10.00. Salah satu kelompok megirim berita dan masuk ke email saya pukul 09.58, kelompok yang lain melanggar dead line hingga kuliah penulisan berita berakhir pukul 10.30 WIB.

Inilah berita hasil liputan para mahasiswa (saya kutip sesuai dengan aslinya):

1. Kelompok 1


Judul: Rector Cup
JAKARTA-Rector Cup ke-10, diadakan untuk memperingati ulang tahun IISIP ke-58 pada 5 Desember 2011. Rector Cup diadakan pada, Senin, (28/11). Di Stadion Inpres, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sistem kompetisinya menggunakan sistem penyisihan grup, tiap
grup terdiri dari empat tim. Alumni mengirim satu tim untuk mengikuti Rector Cup. Angkatan 2008 mengirim satu tim, angkatan 2009 dua tim, angkatan 2010 dua tim, dan angkatan 2011 dua tim.

"Pertandingan ini diadakan tiap tahunnya untuk memperingati hari ulang tahun IISIP dan untuk mempererat tali silaturahmi antar angkatan", ujar Feby Novalius ketua pelaksana Rector Cup. Feby mengatakan, semoga pertandingan Rector Cup bisa berjalan
dengan lancar. Technical Meeting, diadakan pada, Sabtu (26/11), pukul 13.00 WIB di depan ruang II-2.

Komentar dosen:
Judul tidak menarik, sehingga tidak mengundang pembaca untuk mengetahui isi berita. Perlu dicek ulang untuk mengetahui mana penulisan yang benar: rector atau rektor?

Lead juga tidak menarik, karena terdiri dari beberapa kalimat yang terpenggal-penggal.

Kelompok 1 menganggap pintar pembaca, sehingga lupa menjelaskan, apa sih yang dilombakan, dipertandingkan dan dikompetisikan dalam Rektor Cup? Kompetisi olahraga, matematika, paduan suara atau lomba tidur terlama?

Hasil liputan di atas akan lebih afdol jika ditulis seperti ini:

IISIP Jakarta Gelar Rektor Cup 10

Guna memeringati hari jadinya yang ke-58, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta menggelar Rektor Cup ke-10 di
di Stadion Inpres, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (28/11).

Rektor Cup yang mempertandingkan beberapa cabang olahraga itu diikuti delapan tim, masing-masing tim alumni, tim angkatan
2008, angkatan 2009 (dua tim), angkatan 2010 (dua tim), dan angkatan 2011 (dua tim).

Feby Novalius, ketua pelaksana Rektor Cup, menjelaskan acara ini digelar setiap tahun guna memeringati hari ulang tahun IISIP pada 5 Desember.
Rektor Cup, menurut Feby, juga dimaksudkan guna mempererat tali silaturahmi antarangkatan.

Dia mengharapkan acara yang mempertandingkan beberapa cabang olahraga itu berjalan
lancar. Technical meeting diadakan pada Sabtu (26/11) pukul 13.00 WIB di depan ruang II-2 Kampus Tercinta.

2. Kelompok 2

Judul: Olahraga ala Dosen IISIP
Di tengah kesibukan mengajar, para dosen IISIP Jakarta meluangkan waktu untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Senam aerobik menjadi piihan mereka yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu sore.

Kegiatan yang bermula dari inisiatif beberapa dosen dimulai sejak tahun 2002 hingga sekarang. Namun, kegiatan tersebut sempat terhenti dari tahun 2005 sampai 2009.
"Kegiatan ini tidak berjalan lancar, ada hambatan seperti masalah waktu, maka itu kegiatan ini sempat terhenti empat tahun," ujar Omar, Ketua Koordinator Senam.

Kegiatan senam kembali aktif tahun 2009 yang diikuti para dosen, namun terbuka juga untuk mahasiswa. "Biasanya senam dilakukan hari Sabtu pukul 16.30 sampai 17.30 di lapangan basket," ujar Omar.

Instruktur senam didatangkan dari salah satu pusat kebugaran di Depok," lanjut Omar.
Selain untuk menyehatkan badan, kegiatan ini bertujuan menghibur serta menjaga keakraban sesama dosen.

Komentar dosen: Judul cukup baik, membuktikan kelompok ini kreatif. Hanya dalam menyusun kalimat, anggota kelompok ini masih belum sempurna, ada ketidakakuratan di sana sini.

Terdapat kalimat yang tidak jelas, mana fakta dan mana opini, karena tidak disertakan sumbernya. Lebih baik jika naskah berita kelompok ini disusun sebagai berikut:

Judul: Olahraga ala Dosen IISIP

Di tengah kesibukan mengajar, para dosen IISIP Jakarta meluangkan waktu untuk menjaga kebugaran tubuhnya dengan senam aerobik setiap Sabtu sore di kampus.


Olahraga ala dosen ini, menurut Koordinator Senam Omar Abdidin di Kampus Tercinta, Sabtu (26/11), dilakukan sejak 2002 dan sempat terhenti selama empat tahun, lalu diaktifkan lagi pada 2009.

Omar menjelaskan, salah satu sebab terhentinya senam aerobik itu adalah tiadanya waktu para dosen.
Setelah senam kebugaran itu diaktifkan kembali pada 2009, masih menurut Omar, yang bisa ikut bukan hanya dosen, tapi juga terbuka buat mahasiswa.

Senam dimulai pukul 16.30 dan berakhir 17.30 di lapangan basket. Omar menjelaskan, instruktur senam didatangkan dari salah satu pusat kebugaran di Depok.


Selain untuk menyehatkan badan, kata Omar, kegiatan ini bertujuan menghibur dan menjaga keakraban sesama dosen.

3. Kelompok 3

Judul: Peraturan Hanya Wacana, Merokok Adalah Budaya
Larangan merokok tertulis di gedung IISIP Jakarta. Edo (20) mahasiswa IISIP jurusan Hubungan Internasional angkatan 2010 merokok di area yg dilarang merokok, Sabtu (26/11) pagi.

Peraturan dilarang merokok di IISIP Jakarta banyak dilanggar mahasiswa. Peraturan tersebut masih dianggap peraturan tertulis biasa. Menurut Edo, ia merokok karena banyak mahasiswa yang melanggar peraturan tersebut. “Ayam berkokok di atas genteng,
kalau tidak merokok tidak ganteng,”ujar Edo. Selain itu, ia menambahkan seharusnya peraturan merokok itu lebih ditegaskan dengan sanksi yang diberikan dari pihak kampus.

Peraturan dilarang merokok yang banyak dilanggar mahasiswa mendapat respon dari beberapa dosen. “Sanksi merokok di kampus IISIP Jakarta hanya sanksi moral, belum ada sanksi tertulis tetapi lebih baik mahasiswa tidak merokok agar terhindar dari
penyakit dan lingkungan Kampus IISIP Jakarta lebih sehat,”ujar Omar, dosen IISIP Jakarta.

Larangan merokok di kampus IISIP Jakarta tidak efektif dengan penerapan lingkungan mahasiswa yang menganggap hanya sekedar larangan. Peraturan tersebut berjalan efektif dengan adanya kesadaran mahasiswa dan kerjasama dosen serta pihak kampus
IISIP Jakarta.

Komentar dosen:
Kelompok ini lumayan kreatif dalam membuat judul, namun sayang tidak kreatif saat menyusun kalimat berita, karena di sana sini terdapat pengulangan, yaitu tentang banyaknya mahasiswa yang melanggar dan peraturan dilarang merokok. Lead juga kurang menarik dan ada kalimat dalam paragraf yang tidak ada sumber beritanya. Berita di atas akan lebih "berbunyi" jika ditulis seperti ini:

Sejumlah mahasiswa IISIP Jakarta tetap merokok di dalam kampus, Sabtu (26/11), meskipun pihak perguruan mengeluarkan larangan merokok secara tertulis.


Edo (20), mahasiswa IISIP jurusan hubungan internasional angkatan 2010 hari itu merokok di area dilarang merokok.
Edo beralasan, ia merokok di area itu, karena banyak mahasiswa lain yang juga melanggar peraturan tersebut. "Ayam berkokok di atas genteng, kalau tidak merokok tidak ganteng," ujarnya.

Dia mengatakan larangan itu hanya sebatas peraturan dan tidak pernah ada sanksi dari pihak kampus.


Omar Abidin, salah seorang dosen membenarkan, sampai sejauh ini pihak perguruan belum pernah mengeluarkan teguran tertulis kepada para mahasiswa yang masih merokok di lingkungan kampus. "Yang ada baru sanksi moral," katanya.


Dia mengingatkan para mahasiswa agar jangan merokok demi kesehatan dan menjaga agar lingkungan kampus IISIP Jakarta tetap bersih.


4. Kelompok 4

Judul: Tanpa judul
Gebrakan Festival di Awal TahunFestival pertama Paduan Suara Buana Cipta Swara (PSBCS)IISIP Jakarta empat kali gagal digelar. Hal ini disebabkan kurangnya kedisiplinan panitia yang dibentuk sejak akhir tahun 2010.Saat ini panitia merencanakan festival paduan suara tingkat SMA se-JABODETABEK yang akan digelar tanggal 11 dan 12 Januari 2012. Panitia mentargetkan 20 hingga 25 grup dan setiap grup dikenakan biaya Rp. 300.000.Festival yang digelar PS BCS bertujuan memperkenalkan IISIP Jakarta dan PS BCS kepada masyarakat khususnya siswa SMA. Pemenang utama mendapatkan hadiah berupa uang tunai, sertifikat, dan piala bergilir. Kriteria pemenang dinilai dari segi vokal, gerakan, dan kostum.Panitia mencari dana melalui sponsor dan kegiatan dana usaha. Kini, PS BCS mendapat sponsor tetap dari Pandawa percetakan. Panitia juga mentargetkan sponsor dari XL, Pocari Sweat, Kementrian Budaya dan Pariwisata, 711, dan Walls.

Komentar dosen:
Selain tanpa judul, berita yang ditulis kelompok ini juga tanpa alinea/paragraf, tanpa tujuan yang jelas dan tanpa logika.

Perhatikan kalimat awal, tertulis "Gebrakan Festival .... empat kali gagal digelar." Yang gagal digelar itu "gebrakan" atau "festival"? Lalu apa hubungannya antara kegagalan festival dan rencana festival paduan suara tingkat SMA?

Ada pula informasi tentang target peserta, ketidaksiplinan panitia (siapa sih yang jadi panitia), memperkenalkan IISIP Jakarta, pencarian dana, kriteria pemenang, dan sponsor. Satu sama lain tidak mengait.

Karena tidak jelas, apa yang akan diberitakan, dosen pun mengalami kesulitan memperbaiki naskah berita di atas. Jika pun mau dipaksakan harus menerka-nerka, bisa jadi terkaan dosen keliru.

Kelompok 5:

Judul: Pemanfaatan Gedung Dua Lantai IISIP Jakarta
Jakarta - "Ruangan itu dulu berfungsi sebagai ruangan produksi siaran radio pada 2002, kemudian beralih fungsi semenjak 2006," itu pernyataan salah satu alumni IISIP Jakarta, Agus Triyono (30).

Gedung dua lantai di belakang perpustakaan IISIP Jakarta sudah beralih fungsi menjadi gudang yang sebelumnya menjadi tempat arsip kampus.


Angga Indrawan (22) mantan Presiden BEM dikampus tercinta mengatakan ingin memanfaatkan gedung tersebut menjadi ruang sekretariat Himpunan Mahasiswa Politik (Himapol), karena ia melihat kurangnya daya fungsi ruang tersebut. Namun pihak
kampus belum menindaklanjuti usulannya.

Hingga saat ini kondisi ruangan tersebut tidak berfungsi. "Sebaiknya ruangan tersebut dijadikan sebagai sarana dan prasarana olahraga untuk mahasiswa IISIP Jakarta," ujar Adnan (19) mahasiswa IISIP Jakarta.


Komentar dosen: Judul tidak menarik, karena terlalu datar. Coba tempatkan diri Anda sebagai pembaca, termotivasikah Anda untuk membaca berita di bawahnya jika menemukan judul seperti di atas? Kreatif, dong.

Lead juga tidak menarik. Boleh saja memakai kutipan, tapi jika akan dipakai sebagai lead, kutipan itu harus unik, bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Terdapat kalimat tanpa logika, misal "Hingga saat ini kondisi ruangan tersebut tidak berfungsi." Yang tidak berfungsi itu ruangan atau kondisi ruangan?

Kapan peristiwa yang diberitakan juga tidak jelas, termasuk kapan anggota kelompok ini melakukan wawancara dengan nara sumber (Agus Triyono, Angga Indrawan, dan Adnan).

Mungkin akan lebih bagus jika naskah berita di atas ditulis seperti ini:

Bangunan Dua Lantai di IISIP Mubazir

Gedung dua lantai di belakang perpustakaan IISIP Jakarta kini mubazir, padahal mahasiswa pernah mengajukan permohonan kepada pihak perguruan untuk memanfaatkan bangunan di sana sebagai sekretariat Himpunan Mahasiswa Politik (Himapol).

Angga Indrawan (22), mantan Presiden BEM di Kampus Tercinta, Sabtu (26/11) menjelaskan organisasi yang dimpinnya berniat menjadikan ruang di sana sebagai sekretariat, karena ia melihat ruang yang ada di sana tidak berfungsi. Namun, menurut Angga, pihak kampus belum menindaklanjuti usulannya.


Berdasarkan pengamatan, ruang-ruang yang ada di bangunan itu kini telah beralih fungsi menjadi gudang. Sebelumnya gedung itu dipakai untuk menyimpan arsip kampus.


Agus Triyono (30), salah seorang alumni, menjelaskan pada 2002, salah satu ruangan di sana pernah difungsikan sebagai tempat produksi siaran radio, kemudian beralih fungsi sejak 2006.


"Daripada mubazir, sebaiknya ruangan tersebut dijadikan sebagai sarana dan prasarana olahraga untuk mahasiswa IISIP Jakarta," ujar Adnan (19), mahasiswa.

6. Kelompok 6

Judul: Usaha Foto Copy di Kampus IISIP Jakarta
Surya(35) adalah salah satu pemilik usaha foto copy yang ada di Lenteng Agung Jakarta. Sudah empat tahun Surya membuka usahanya di dalam kampus IISIP Jakarta. Meskipun dengan tempat yang tidak terlalu luas, namun strategis dan menguntungkan.

Foto copy Surya merupakan satu- satunya tempat foto copy yang berada di dalam kampus IISIP Jakarta. Letak usaha suya bersebalahan dengan perustakaan kampus dan laboratorium IISIP.
Dengan biaya sewa Rp 6juta pertahun ia memilih membuka usaha di dalam kampus karena alasan dekat dengan tempat tinggalnya. “wah ga terhitung dek, sesuai keadaan kampus aja. Soalnya kadang sepi kadang ramai, terus minggu kan juga libur. Ya ga nentu deh pokoknya”ujarnya saat ditanya keuntungannya.

Menurut Lanny salah satu mahasiswa Jurnalistik IISIP dengan adanya foto copy Surya ini memudahkan dalam memenuhi kebutuhan mahasiswa.”harga tidak jauh berbeda dengan yang ada di luar, sesuai dengan kantong mahasiswa. Sama aja kok harganya”ujar Satrio mahasiswa lainnya.

Komentar dosen:
Judul tidak menarik, karena ditulis terlalu datar. Lagi pula apa menariknya usaha fotocopy di kampus IISIP? Emang gue pikirin? Apakah tidak ada unsur lain yang lebih menarik?

Kelompok ini tidak akurat dalam menulis kalimat, kata-kata dan tanda baca. Kalimat-kalimat yang dituangkan dalam berita ini adalah kalimat feature, bukan kalimat berita lempang (hardnews/straight news/spot news).

Lagi-lagi, kita mesti bertanya, apa yang sebenarnya akan disampaikan kelompok ini. Pembaca belum menemukan unsur yang menarik, penting, apalagi dramatis. Pembaca juga belum menemukan sesuatu yang unik.

Berita di atas akan menarik jika penghasilan Surya mencapai Rp 50 juta per bulan, atau sama sekali tidak untung selama empat tahun membuka usaha di kampus, dan gara-gara ini dia pernah (maaf) akan bunuh diri terjun dari lantai empat gedung baru IISIP. Atau siapa tahu, Surya pernah mengalami peristiwa uang hasil fotocopy-nya dicuri mahasiswa.

Karena tidak ada unsur menarik yang bisa diangkat jadi berita, maka saya tidak bisa memberikan contoh koreksiannya.***


Minggu, 27 November 2011

Tatkala Lembaran Rp 1.000 tak Lagi Berarti

UANG Rp 1.000 mungkin tidak berarti buat Anda. Sejak Bank Indonesia menerbitkan uang kertas pecahan Rp 2.000 beberapa tahun lalu, uang kertas bernominal Rp 1.000 sekarang ini praktis jarang Anda pegang. Tapi jika uang "tak berharga" itu Anda kumpulkan -- apalagi secara teratur -- untuk tujuan tertentu, hasilnya bisa "amat dahsyat".

Maka beralasan jika pada saat sebuah organisasi atau lembaga membutuhkan dana, "gerakan pengumpulan uang Rp 1.000" pun dijadikan program. Guna biaya pengobatan bagi Azka (4 tahun) dan Shafa (4,7 tahun) yang menderita penyakit langka Guillain-Barre Syndrome -- orang tua mereka tidak mampu --, sebuah LSM di Jakarta, belum lama ini mengadakan Gerakan Pengumpulan Dana Masyarakat Rp 1.000. Uang miliaran rupiah terkumpul dari aksi ini.

Aktivis Migrant Care dan relawan peduli TKI awal tahun 2011 juga menggelar aksi penggalangan dana Rp 1.000 untuk pemulangan TKI yang telantar di Arab Saudi. Uang miliaran rupiah juga terkumpul lewat aksi ini.

Jauh sebelumnya melalui gerakan pengumpulan koin yang nilainya tak sampai Rp 1.000 (paling banter 500 perak), terkumpul uang yang nilainya lebih dari Rp 2 miliar, digunakan untuk membantu Prita Mulyasari yang didenda pengadilan harus membayar Rp 1 miliar kepada RS Omni Alam Sutera, Tangerang yang merasa nama baiknya dicemarkan.

Andai saja pengumpulan recehan Rp 1.000 dijadikan gerakan nasional, sangat mungkin, uang yang terhimpun bisa digunakan untuk menyejahterakan masyarakat.

Berandai-andai lagi, jumlah penduduk Indonesia 240 juta, jika 100 juta di antaranya mengumpulkan Rp 1.000, maka dalam satu hari akan terkumpul 100.000.000 X Rp 1.000 = Rp 100.000.000.000 (Rp 100 miliar). Jika aksi itu dilakukan selama satu bulan, maka akan terakumulasi 30 X 100.000.000.000 = Rp 3.000.000.000.000 alias Rp 3 triliun!

Andai saja uang Rp 3 triliun itu dipakai untuk program pendidikan atau kesehatan, para siswa bisa sekolah gratis, rakyat berobat ke rumah sakit nggak perlu bayar.

Persoalannya, siapa atau lembaga apa yang dipercaya untuk mengelola dana gerakan Rp 1.000 tersebut, sebab sebagian besar komponen bangsa ini tidak percaya kepada siapa pun yang diserahi tugas untuk mengelola dana masyarakat. Alasannya, apalagi kalau bukan "takut dikorup".

Karena itu bersyukurlah Anda jika Anda masih menaruh kepercayaan kepada lembaga, tempat di mana Anda berorganisasi, sehingga uang "tak berarti" (Rp 1.000) yang kita kumpulkan tidak sia-sia, tapi benar-benar tepat guna.

Dalam rangka menyambut Natal, komunitas gereja kami di Tangerang tahun ini juga mengadakan aksi "kumpul Rp 1.000". Dana yang terhimpun nantinya akan digunakan untuk melakukan aksi sosial.

Aksi mengumpulkan uang "seceng" ini dilakukan selama 40 hari. Jumlah warga gereja kami 1.000 orang. Jika dalam satu hari mereka konsisten dengan gerakan "sepele" tapi bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa ini, akan terkumpul dana Rp 1.000 X 1.000 (warga) = Rp 1.000.000. Dalam 40 hari akan terkumpul Rp 40.000.000. Dana lumayan besar (ratusan juta rupiah) tentu akan terkumpul jika anggota komunitas kami mengumpulkan Rp 1.000 per hari selama setahun. Pastinya uang Rp 1.000 yang dikumpulkan secara kolektif itu bisa dipakai untuk membantu komunitas gereja lain yang tidak mampu dan kerap mengajukan permohonan dana kepada komunitas kami.

Buat sebagian kita, uang recehan Rp 1.000 mungkin sudah tidak lagi berarti. Tapi coba perhatikan ketekunan seorang pengemis di Jakarta dan sekitarnya -- juga di kota besar lainnya -- yang menganggap Rp 1.000 masih punya arti. Karena itu jangan heran kalau penghasilan mereka dalam sehari, seperti kerap ditulis banyak koran, bisa mencapai Rp 200.000 atau Rp 6.000.000 per bulan jika mereka mengemis nonstop selama 30 hari. Lebih besar daripada gaji Anda, bukan?

Karena itu maksimalkan nilai uang Rp 1.000 Anda untuk hal-hal positif lewat "Gerakan Rp 1.000"!






Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms